BRI Jazz Gunung Series 3 Ijen telah dimulai. Berbagai penampil unjuk gigi. Surabaya Pahlawan Jazz dan salah satu kelompok Jazz lokal Banyuwangi: Jazz Patrol Kawitan menjadi pembuka. Dalam ajang itu digelar pula pameran lukisan bertajuk Fora Fauna Di lereng Gunung Ijen, Banyuwangi, di antara pepohonan hijau dan areal persawahan. Patung-patung terakota penari gandrung menyambut. Alunan nada jazz mulai terdengar. Sayup. Iramanya mengantar pengunjung sejak pintu masuk Taman Gandrung Terakota.
Lokasi itu menjadi tempat gelaran BRI Jazz Gunung Series 3 Ijen. Ajang itu dibagi menjadi dua panggung. Pertama, Panggung Sukaria. Menjadi tempat pertunjukan gratis dengan dua kelompok musisi yang tampil. Yakni Surabaya Pahlawan Jazz dan Jazz Patrol Kawitan.
Kedua, Panggung Ampitheater. Letaknya di sudut timur. Tribun untuk penonton telah disiapkan bantal-bantal kecil untuk tempat duduk. Berderet ke atas. Posisi itu membuat siapa saja dapat melihat penampil dengan lebih leluasa.
Di panggung itu terdapat berbagai penampil: Dua Empat, The Aartseen feat. Adam Zagorski, Irsa Destiwi feat. William Lyle, Kevin Yosua Trio feat. Fabien Mary, serta Suliyana dan Glam Orchestra.

Surabaya Pahlawan Jazz (SPJ), kelompok sekaligus komunitas jazz asal Surabaya itu membuka pertunjukan. Mereka memainkan beberapa komposisi. Dimulai dari instrumental berjudul Foot Print.
Dalam instrumen tersebut, masing-masing player menunjukkan skill mereka melalui permainan solo. Di tengah-tengah, terdapat selang-seling antara drum dan perkusi. Membentuk nada ritmis dengan pukulan cobalt yang menghasilkan dua nada berbeda.
Kemudian kelompok tersebut memainkan lagu One Not Samba. Seperti judulnya, berirama samba. Lagu itu dinyanyikan oleh vokalis perempuan Cecilia Indriati. Pada sesi pertama itu, SPJ total membawakan 12 komposisi.
Yoyok Sholehman, vokalis pria SPJ, tampil dengan guyonan khas Surabaya. Ia beberapa kali mengajak penonton bernyanyi.
Pun, memancing tawa. Seperti saat ia menantang keyboardis Samuel Danu Prasetyo. Samuel memainkan melodi, Yoyok menirukan melodi itu dengan vokalnya.
Beberapa melodi berhasil ditirukan. Namun, saat Samuel memainkan nada-nada sulit, Yoyok mengangkat tangan, “Lho, nek koyok ngono gak nutut aku, rek! (Kalau nadanya sulit seperti itu, saya tidak bisa, Red),” candanya dengan medok Suroboyoan.

Kelompok itu juga membawakan lagu Georgia. Harmoni dalam lagu itu adalah perpaduan antara musik jazz dan blues. Vokal berat dan nada dominan pentatonis. Ada pula solo gitar dari gitaris Tri Wijayanto.
Selanjutnya, kelompok musik Jazz Patrol Kawitan unjuk gigi. Mereka membawakan lagu-lagu Banyuwangi yang populer pada dekade ’60an.
“Kami mengaransemen ulang lagu-lagu tersebut dengan sentuhan musikalitas Jazz Patrol Kawitan. Untuk mengangkat musik lokal Banyuwangi juga,” ujar Eko Rastiko, leader kelompok tersebut sekaligus pemain angklung.
Jazz Patrol Kawitan asli dari Banyuwangi. Memadukan nada jazz antara alat musik modern dan perkusif. Seperti angklung, kentongan, dan seruling. Jazz ritmik dan tak melepas sentuhan melodi etnik Banyuwangi.

Perpaduan itu tentu butuh proses panjang. Apalagi melibatkan angklung. Berbeda dengan alat musik modern yang memiliki 7 not, angklung hanya punya 5 not saja. “Notnya hanya do, re, mi, sol, la,” ungkapnya.
Maka, untuk menyesuaikan dengan alat musik lain, Eko menggunakan teknik memukul dua hingga empat nada bersamaan. Sehingga alat musik yang ia mainkan memiliki dua fungsi: melodi dan rythm section.
Selain pertunjukan musik, terdapat pameran seni rupa bertajuk Fora Fauna. Karya-karya patung, instalasi, hingga kreasi kain batik terdapat di tiap sudut ruangan terbuka Taman Gandrung Terakota.
Mikke Susanto, kurator pameran itu menyebut bahwa Fora Fauna mengangkat bentuk, gerak, dan karakter berbagai jenis binatang. “Sebagai metafora dari kekayaan hayati yang hidup berdampingan dengan manusia,” ungkapnya.
Disebut “fora” sebagai kata jamak dari “forum”. “Para binatang dan pecintanya dapat berdialog dan menandai keberadaan mereka,” ujar kurator 51 tahun itu.
Salah satunya adalah karya Butet Kartaredjasa. Seniman kawakan itu menyajikan 3 buah patung celeng. “Saya beri judul Tiga Celeng. Karena memang celengnya ada tiga. Juga dalam tiga warna,” katanya. Ia lalu menuding satu per satu celengnya. “Yang ini namanya ‘celeng doreng’,” ujarnya, sambil menunjuk patung celeng dengan warna doreng. Ia lalu menunjuk celeng berwarna kuning.

“Satunya lagi ‘celeng berbulu beringin’. Tapi celeng ini di kepalanya hanya ada 1 beringin. Sedangkan di pantatnya ada banyak beringin. Jadi dia berpikirnya lewat pantat,” guraunya, kemudian tertawa.
“Nah, yang ini celeng cokelat,” ujar seniman 63 tahun itu, sambil menunjuk patung celeng berwarna cokelat. “Pokoknya zaman sekarang ini, ketiganya lagi kompak. Entah kompak yang bagaimana silakan ditafsirkan sendiri,” pungkasnya.
Dari panggung Ampitheatre, penampil pembuka adalah Dua Empat. Mereka membawakan berbagai komposisi populer karya mereka sendiri. Seperti From Friendship to Lovers, Isn’t It Romantic, dan lain-lain.

Harian Disway adalah media yang didirikan oleh Dahlan Iskan untuk memperjuangkan jurnalisme di Indonesia.





Discussion about this post