Tim Pengabdian Masyarakat dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan inovasi teknologi fog harvesting atau jaring embun di Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Program ini menjadi langkah nyata akademisi dalam membantu masyarakat menghadapi krisis air bersih yang kerap melanda kawasan wisata Gunung Bromo, terutama saat musim kemarau.
Program pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Dr. Andri Hernandi, S.T., M.T., dengan anggota tim Dr. Muhammad Rais Abdillah, S.Si., M.Sc., Dr. Susanna Nurdjaman, S.Si., M.T., dan Dr. Ratri Widyastuti, S.T., M.T.. Kegiatan tersebut didukung melalui skema pendanaan Pengabdian kepada Masyarakat/Inovasi Kolaboratif FITB-ITB.
Desa Wonotoro, yang merupakan pintu gerbang wisata Gunung Bromo, menghadapi permasalahan serius saat musim kemarau. Debit mata air menurun drastis pada Juli hingga Agustus, sementara sebagian besar warga belum memiliki jaringan pipa air bersih ke rumah-rumah. Kondisi ini membuat masyarakat harus mengambil air langsung dari sumber di lembah, bahkan mengantre panjang ketika debit air menurun.
Melihat situasi tersebut, tim FITB-ITB melakukan analisis meteorologi tahunan menggunakan data dari stasiun cuaca terdekat. Hasil kajian menunjukkan bahwa meski curah hujan rendah, kelembapan udara relatif tinggi, mencapai lebih dari 80 persen pada bulan Juni–Agustus, dengan suhu rendah dimana kondisi ideal untuk penerapan teknologi jaring embun.
Dalam pelaksanaannya, tim melakukan peninjauan lapangan, pemasangan prototipe jaring embun, serta pengukuran meteorologi menggunakan sensor Automatic Weather Station (AWS) dan pemetaan spasial berbasis teknologi LiDAR. Kegiatan di lapangan turut didampingi oleh Kepala Desa Wonotoro Sarwo Slamet beserta perangkat desa, yang memberikan dukungan terkait kondisi sumber air dan potensi lokasi penerapan.
Kolaborasi juga melibatkan Johan Pramono, Direktur Pengembangan Bisnis dan Strategi Korporasi Jiwa Jawa Indonesia, yang berkomitmen terhadap pengembangan desa wisata berkelanjutan di kawasan Bromo. Sinergi antara akademisi dan dunia usaha ini diharapkan mampu menghadirkan solusi berkelanjutan bagi masyarakat.
Hasil awal pengamatan menunjukkan kelembapan relatif mencapai lebih dari 90 persen pada Juni 2025. Namun, curah hujan tinggi akibat anomali iklim basah memengaruhi efektivitas penangkapan embun. Kecepatan angin yang rendah juga menjadi tantangan dalam proses kondensasi. Kondisi ini mendorong tim untuk melakukan observasi tambahan serta modifikasi desain agar sesuai dengan karakteristik udara pegunungan Tengger.
Selain faktor cuaca, keterbatasan lahan juga menjadi kendala tersendiri. Sebagian besar lahan di Desa Wonotoro merupakan milik pribadi, sehingga tidak memungkinkan pembangunan jaring embun skala besar. Menyiasati hal ini, tim FITB ITB tengah mengembangkan desain jaring embun berskala kecil-menengah yang lebih fleksibel dan dapat dipasang di lahan warga tanpa mengganggu aktivitas pertanian maupun pemukiman.
Riset lanjutan akan melibatkan Ir. Narendra Kurnia Putra, S.T., M.T., Ph.D., IPP. dari Fakultas Teknik Industri (FTI) ITB untuk mengkaji aspek struktur, material, dan efisiensi energi sistem fog harvesting. Sementara Miga Magenika Julian, S.T., M.T. dari FITB ITB akan melakukan analisis hidrologi dan pemodelan potensi air tanah guna mendukung strategi pengelolaan sumber daya air secara terpadu.
Melalui pemetaan LiDAR, tim juga berhasil memproduksi Digital Terrain Model (DTM) untuk menganalisis pola aliran sungai dan sebaran sumber mata air di Wonotoro. Hasil studi awal menunjukkan bahwa sumber-sumber utama berada di wilayah dengan orde aliran sungai rendah, yang rentan mengalami penurunan debit saat kemarau.
Dr. Andri Hernandi menegaskan, kegiatan ini bukan hanya riset teknologi, tetapi juga upaya membangun kesadaran masyarakat dalam mengelola sumber daya air secara berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan hasil penelitian benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Wonotoro dan menjadi awal kolaborasi jangka panjang antara akademisi, masyarakat, dan mitra korporasi,” ujar Dr. Andri dalam rilis resminya untuk RRI Malang, Kamis (14/11/2025).
Sementara itu secara esklusif melalui pesan singkatnya kepada RRI Malang, Dr. Ratri Widyastuti, S.T., M.T sebagai bagian dari tim pengembangan teknologi fog harvesting, menambahkan tentang tantangan teknis utama dalam menyesuaikan desain jaring embun agar efektif di kawasan pegunungan Tengger yang memiliki karakteristik cuaca dan topografi berbeda dengan lokasi riset sebelumnya di Lembang.
“Tantangan teknis utamanya adalah menyesuaikan bahan dan struktur jaring dengan kondisi pegunungan Tengger yang berbeda dari Lembang. Karena kecepatan angin di Tengger cenderung lemah, kami perlu material dengan pori dan sifat permukaan yang lebih efektif menangkap droplet embun pada kelembaban yang sesuai.
Struktur jaring juga harus diatur ulang kemiringan, kerapatan, dan orientasinya agar tetap optimal meski aliran kabut tidak kuat. Selain itu, desainnya perlu dikombinasikan dengan sistem penampungan air hujan, sehingga satu instalasi dapat memanen dua sumber air secara efisien” ujarnya.
Melihat tujuan program ini untuk mendukung kemandirian air bersih dan pemberdayaan masyarakat, strategi tim FITB-ITB dalam melibatkan masyarakat Desa Wonotoro agar teknologi jaring embun ini dapat diterapkan dan dipelihara secara berkelanjutan setelah fase penelitian berakhir.
“Karena jaring embunnya belum optimal dan masih memerlukan pengembangan lanjutan, pelibatan masyarakat kami fokuskan pada pengumpulan informasi menyeluruh tentang kondisi Desa Wonotoro, mulai dari sumber air yang ada, lokasi berkabut, hingga kebutuhan air harian. Informasi ini menjadi dasar penting untuk mengarahkan pengembangan teknologi yang lebih tepat. Dengan cara itu, masyarakat tetap terlibat sejak awal sebagai penyedia pengetahuan lokal, sebelum teknologi siap diuji dan diterapkan” tutupnya.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, FITB ITB berkomitmen menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk meningkatkan ketahanan air di kawasan wisata pegunungan yang rentan terhadap perubahan iklim.

Portal berita resmi RRI.co.id menyajikan berita nasional, daerah, dan internasional terkini.



Discussion about this post