Selamat datang di galeri virtual Taman Gandrung Terakota. Sebuah situs budaya yang didedikasikan untuk melestarikan Tari Gandrung, ikon seni dan budaya Banyuwangi, di tengah lanskap persawahan yang asri.
Digagas oleh Sigit Pramono, tempat ini adalah antitesis dari monumen raksasa—ratusan patung penari gandrung dari terakota (gerabah) dihamparkan di sini. Mereka ringkih dan mudah pecah, mengingatkan kita pada siklus kehidupan: dari tanah, kembali ke tanah.
Koleksi Museum
Pilih kategori, lalu klik koleksi untuk membaca kisah lengkapnya.
01
Seni & Tradisi
Gandrung
Tari Gandrung adalah tarian tradisional asal Banyuwangi. Kata “gandrung” berarti pesona masyarakat agraris kepada Dewi Sri (Dewi Padi) yang membawa kesejahteraan. Awalnya merupakan ritual persembahan syukur pasca panen, tarian ini kini disajikan berpasangan (Paju Gandrung) dengan iringan musik Gamelan Osing.
02
Seni & Tradisi
Terakota
Terakota (tembikar atau tanah bakar) adalah keramik yang dihasilkan dari pembakaran suhu rendah. Berwujud penari Gandrung, ayam, padasan, dan kendi. Filosofi utamanya terletak pada watak ringkih material ini: “Tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini. Dari tanah kembali ke tanah.”
03
Taman & Instalasi
Taman Nitis Gandrung
Menceritakan hubungan spiritual antara Dewi Sri dengan Penari Gandrung. Pasca panen raya, wujud rasa syukur petani diekspresikan lewat tarian. Masyarakat setempat percaya bahwa Dewi Sri (Dewi Kesuburan) menitis ke dalam tubuh penari Gandrung pada setiap upacara pasca panen.
04
Taman & Instalasi
Bundaran Gandrung
Dua belas patung Gandrung berjejer melingkar menampilkan gerakan MASKOT dalam tarian Jejer Gandrung Kembang Menur. Bermakna keceriaan ibarat kembang yang mekar, tarian ini merupakan ungkapan syukur atas hasil panen melimpah serta wujud tarian selamat datang.
05
Taman & Instalasi
Taman Unggas Terakota
Memadukan seni, alam, dan edukasi, taman ini menghadirkan kebun binatang mini (merak, ayam bekisar, mutiara, bebek) dan instalasi patung unggas berbahan gerabah. Sebuah ruang bermain anak yang merefleksikan siklus kehidupan melalui material tanah liat.
06
Taman & Instalasi
Patung Kebo
Kerbau (kebo) adalah simbolisasi erat kerjasama antara petani dan hewan bajak. Karya patung ini ditampilkan berurutan dari sosok utuh hingga terbenam ke dalam tanah, sebagai refleksi kritis terhadap kemajuan zaman yang menggusur kearifan lokal.
07
Taman & Instalasi
Arboretum Bambu
Kawasan ini memiliki 58 jenis bambu yang didatangkan khusus dari Cina, Thailand, hingga Amerika Latin. Penanaman ini bertujuan untuk mengembalikan ekosistem hutan bambu Banyuwangi sekaligus menjaga sumber air di sekitarnya.
08
Arsitektur
Pendopo
Terbuat dari kayu Jati berusia lebih dari 50 tahun, Pendopo adalah bagian depan dari Rumah Joglo. Digunakan untuk aktivitas formal, pagelaran seni wayang kulit, dan upacara adat, bangunan ini mewakili ruang kerukunan tujuh etnis besar di Banyuwangi.
09
Arsitektur
Tumpang Sari Pendopo
Bagian konstruksi inti rangka atap Pendopo yang melambangkan status sosial pemilik Joglo. Tumpang sari harus selalu berjumlah ganjil. Pendopo di taman ini secara khusus memiliki 11 susunan tumpang sari dalam dan 3 susunan luar.
10
Alat Agraris
Alat Bajak (Luku)
Bajak tradisional untuk menggemburkan tanah. Berdasarkan filosofi Sunan Kalijaga, LUKU berasal dari kata ‘Mlaku’ (memulai kehidupan):
Cekelan: Harus punya pegangan hidup.
Pancadan: Prinsip kuat membalikkan keadaan.
Tandhing: Mempertimbangkan sebelum memutuskan.
Singkal: Panjang akal & tak mudah putus asa.
Kaijen: Ingat kepada Tuhan YME.
11
Alat Agraris
Garu
Alat tradisional yang digunakan untuk mengolah dan menghancurkan bongkahan tanah setelah dibajak. Penggunaan garu bertujuan untuk meratakan permukaan tanah sehingga menjadi media tanam yang lebih baik bagi benih padi.
12
Alat Agraris
Lesung, Alu, & Padi
Lesung adalah wadah kayu cekung, sedangkan Alu adalah tongkat penumbuk yang tebal. Digunakan secara mekanik oleh masyarakat tradisional untuk menumbuk gabah berulang kali hingga beras terpisah dari sekamnya.
13
Artefak
Lampu Gantung
Dikenal sebagai lampu kerek/katrol dari era kolonial Belanda, sebelum listrik masuk ke Nusantara. Dihiasi motif bunga yang indah, kehadiran lampu ini di dalam ruangan membangkitkan nuansa romantisme sejarah masa lampau.
14
Taman & Instalasi
Pelataran Gandrung
Ratusan terakota penari gandrung tersusun rapi di area persawahan. Terakota ini mudah retak dan hancur, sengaja dibuat tidak abadi untuk menyadarkan kita bahwa yang kekal adalah proses, makna, dan nilai-nilai kebudayaan di baliknya.
15
Taman & Instalasi
Kolam Terakota
Penari gandrung menangkupkan tangan yang berarti siap melayani dengan sepenuh hati. Transisi patung dari berdiri sempurna hingga tenggelam ke dalam kolam menggambarkan dedikasi seniman yang terus berkarya hingga tutup usia.
16
Seni & Tradisi
Topeng Barong Osing
Menyandang identitas khas perpaduan Jawa dan Bali, sakral dan profan. Berwujud binatang angker bertaring dengan dagu yang bisa bergerak. Jika dulu terbatas untuk ritual, kini sering dipertunjukkan untuk perayaan bahagia seperti pernikahan dan khitanan.
17
Artefak
Payung Juwiring
Berasal dari nama kecamatan di Klaten (sentra payung lukis). Berbahan baku bambu yang dikerjakan secara manual dengan dominasi corak batik floral. Payung ini digunakan sebagai peneduh maupun perangkat upacara sakral di Nusantara.